Senin, 08 Oktober 2012
10 energi terbaarukan
10 Energi Terbarukan Di Indonesia
Posted on 18 Mei 2012 | 1 Komentar
Indonesia adalah negeri yang kaya raya. Sumber daya alamnya sangat melimpah. Beberapa di antaranya bisa dikembangkan menjadi energi alternatif sebagai pengganti bahan bakar minyak yang terus menurun dan menyusut.
Sejumlah negara masih mengandalkan minyak bumi, batu bara, dan gas alam untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan energinya. Padahal, stok bahan bakar fosil sebagai sumber energi saat ini terus berkurang. Dalam banyak studi, Indonesia menyimpan ribuan energi terbarukan (renewable energy).
Berikut 10 energi terbarukan yang dimiliki Indonesia dan berpotensi besar untuk menyediakan sumber energi berlebih.
1. Energi matahari
PT PLN (Persero) memanfaatkan energi ini untuk menerangi 1.000 pulau terpencil pada 2012.
2. Energi biomasa (biomass energy)
Sektor perkebunan menyumbang 64 juta ton limbah untuk energi ini.
3. Hydropower (sumber daya air)
Sungai-sungai dan air terjun di Indonesia sangat potensial bagi energi ini.
4. Energi dari laut (ocean energy)
Masih seputar lautan. Lautan menyediakan energi terbarukan (renewable energy), seperti energi gelombang atau pemanfaatan pasang surut air laut dapat digunakan untuk membangkitkan energi listrik dan energi panas air laut (ocean thermal energy)—yang berasal dari panas yang tersimpan dalam air laut.
5. Energi angin
Sepertiga luas Indonesia adalah lautan. Potensi angin sebagai energi terbarukan dengan menggunakan turbin angin untuk menghasilkan listrik.
6. Energi geothermal
Di dalam perut negeri ini, tersimpan 40 persen cadangan panas bumi di dunia. Mayoritas masih ‘tidur’ di bumi Andalas atau Sumatra. Cadangan panas bumi di Sumatra sebesar 6.645 Megawatt electric (MWe) atau hampir 50 persen dari total cadangan nasional, sebesar 15.882 MWe.
7. Hidrogen
Hidrogen memiliki potensi yang amat besar sebagai bahan bakar dan sumber energi.
8. Biodiesel
Saat ini, pengembangan biodiesel yang bersumber dari tanaman jarak (Jatropha) terus dilakukan. Sayang, energi ini belum dikembangkan secara maksimal.
9. Bioetanol
Bioetanol merupakan salah satu jenis biofuel (bahan bakar cair dari pengolahan tumbuhan) di samping biodiesel. Bisa berbahan baku dari singkong, jagung, kelapa sawit.
10. Gasifikasi batu bara (gasified coal)
Beberapa perusahaan sudah mengembangkan dan memanfaatkan energi ini.
12.800 MW PLTA Siap Dikembangkan
Ferial
User Rating: / 0
Poor Best
EBTKE—PT Perusahaan Listrik Negara (PLN persero) akan mengembangkan 12.800 Megawatt (MW) pembangkit listrik tenaga air (PLTA) hingga tahun 2025. Direktur Utama PLN, Nur Pamudji mengatakan kapasitas 12.800 MW tersebut tersebar pada 96 titik sumber energi air yang telah diteliti dan ditemukan PLN bersama-sama dengan pemerintah dan juga telah tercantum dalam Rencana Umum Pembangkitan Tenaga Listrik (RUPTL).”Dari 96 titik tersebut kami berencana mengembangkan 60 persen, sedangkan 40 persennya akan dilelang kepada swasta,”ujar dia di sela Musyawarah Nasional Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (Munas METI), di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Rabu 25 Januari 2012.
Menurut dia, 96 titik PLTA tersebut seluruhnya adalah yang belum dilakukan penandatanganan perjanjian jual beli listrik (power purchase aggrement)- nya. Namun, lanjutnya, dalam melakukan pengembangan PLTA sendiri perseroan masih terkendala dengan mekanisme konsensi yang selama ini ijin di daerah masih terjadi tumpang tindih.”Untuk persoalan ini kami meminta pemerintah pusat membuat aturan yang jelas,”tegas Nur Pamudji.
Nur Pamudji mencontohkan, seperti di panas bumi, setelah pemerintah menemukan titik potensi panas bumi, dilakukan lelang melalui pemerintah dan PLN ditunjuk sebagai pelaksana sehingga mendapatkan harga yang bagus.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kardaya Warnika mengungkapkan mulai sekarang dan pada masa yang akan datang, energi baru terbarukan menjadi juara dalam pemenuhan kebutuhan energi domestik.”Kondisinya memaksa seperti itu,”katanya.
Kedepan, tuturnya, tidak bisa lagi mengandalkan energi fosil terutama minyak bumi dimana produksi di dalam negeri terus mengalami penurunan sehingga dengan kondisi seperti ini mau tidak mau pemanfaatan energi baru terbarukan harus terus didorong.”Apalagi saat ini semua negara di dunia sudah mulai berlomba-lomba memanfaatkan energi baru terbarukan, sebagai contoh energi angin pertumbuhannya telah mencapai 18-19 persen pertahun,”ungkap Kardaya.
Terkait kebijakan harga jual listrik energi terbarukan, lebih jauh dia mengungkapkan, saat ini pihaknya tengah mengkaji kembali kebijakan feed in tariff, dengan demikian nantinya harga jual listrik antara daerah yang satu dengan daerah lain akan mengalami perbedaan sebab dengan harga jual yang sama di setiap daerah mengakibatkan pengembangan pembangkit listrik dari energi baru terbarukan tidak berkembang. (ferial)
Growth Asia Kembangkan PLTU Biomassa
15 Agustus, 2012 at 11:37 Tinggalkan Komentar
Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik meresmikan dua unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) biomassa di Kawasan Industri Medan (KIM) .Hadir dalam kesempat-an ini Direktur Operasi PT PLN Indonesia Bagian Barat Hary Jaya Pahlawan, GM PT PLN (Persero) Wilayah Sumatera Utara Krisna Simba Putra,dan Chairman & CEO Growth Steel Group Fadjar Suherman.
Pihak KESDM segera mengeluarkan peraturan tentang harga jual yang lebih mahal untuk pembangkit listrik yang terbuat dari sampah perkotaan.
“Pembuatan peraturan itu terkait pada keberhasilan PT Growth Asia di Medan yang berhasil membuat Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Biomassa,” ungkapnya
Proyek power plant Biomassa 2×15 megawatt (MW) itu dibiayai PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dengan total untuk tujuh proyek serupa sekitar Rp575 miliar.
Dengan power plant Biomassa itu, Growth Asia, bukan saja berhasil meme-nuhi kebutuhan energi di perusahaannya, melainkan juga menjual ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN).
Keberhasilan Growth Asia, kata Menteri ESDM itu, harus menjadi contoh baik dalam menjalankan program peme-rintah yang berupaya menekan anggaran subsidi untuk bahan bakar minyak (BBM) dan listrik, menekan pencemaran dengan mengurangi efek rumah kaca, serta penanganan sampah perkotaan.
Saat ini Biomassa dihargai oleh PLN sudah Rp975,00 per kwh dari sebelumnya Rp600,00 per kwh. Kalau masyarakat mau mengolah sampah menjadi listrik, Indonesi akan bebas dari krisis energi, beban subsidi tidak ada lagi dan industri bertumbuh, melainkan juga problem sampah yang selama ini menjadi permasalahan besar bagi pemerintah provinsi, pemerintah kota dan kabupaten akan tertanggulangi.
Dijual ke PLN
PT Growth Asia, anak usaha Growth Steel Group, perusahaan dengan bisnis inti industri baja terintegrasi, berencana menjual kelebihan daya listrik (excess power) sebesar 20 megawatt dari pembangkit listrik tenaga biomassa di Medan, Sumatera Selatan ke PT PLN (Per-sero).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, mengatakan total listrik yang dijual ke PLN sekitar 66,7% dari total kapasitas pembangkit tersebut 30 megawatt. PLN membeli listrik tersebut dengan harga Rp 975 per kilowatthour. Dengan harga rata-rata solar industri Rp 10 ribu per liter, PLN dapat menghemat biaya produksi listrik Rp 621 milyar per tahun.
Dengan penguasaan teknologi sistem fabrikasi peralatan pembangkit dan tenaga kerja milik sendiri, PT Growth Asia telah mampu menciptakan pembangunan pembangkit biomassa dengan kan-dungan lokal yang mencapai 70%.
“Kami harap ada investor lainnya yang berminat membangun pembangkit sejenis, dan pada akhirnya akan membantu meningkatkan pasokan listrik di wilayah Sumatera Utara,” ungkap Wacik.
Sebelumnya, PT Growth Sumatera Industry, anak usaha Growth Steel Group lainnya, telah menjual kelebihan daya listrik 15 megawatt ke PLN wilayah Sumatera dari dua pembangkit yang dibangun pada tahun 2008 dan 2010 dengan total kapasitas 30 megawatt.
CEO Growth Steel, Fajar Suherman menambahkan PLTU biomassa 2x 15 MW ini dibangun tahun 2011 dengan menggunakan bahan bakar dari energi terbarukan yaitu cangkang sawit, tebu, sekam padi, tongkol jagung, ampas-ampas tepung tapioka hingga serbuk kayu (waste power energy) karet. Untuk sampah biomassa itu dengan kapasitas 2×15 MW membutuhkan minimal 600 ton per hari.
“Semua sampah biomassa bisa kita gunakan, cuma paling banyak memang dari cangkang sawit,” katanya. Kendala selama ini banyak cangkang sawit dieks-por sehingga waktu panen produksi cangkangnya jadi rendah yang gilirannya untuk menghasilkan energi listrik berkurang. Oleh karena itu perlu ada tambahan dari sampah biomassa lainnya.
Selain di KIM 3, pihaknya menargetkan setiap tahun dibangun enam PLTU biomassa di Indonesia antara lain di Jambi, Pontianak, Banjarmasin dan Palembang. “Kita akan bangun lebih banyak lagi di Indonesia,” jelasnya . Listrik dari sumber energi terbarukan ini cukup menjanjikan mengingat sampah biomassa selalu tersedia apalagi Indonesia sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. Untuk membangun PLTU dengan kapasitas 2 x 15 MW membutuhkan dana sedikitnya Rp220 miliar.
Di Sumut terdapat perkebunan kelapa sawit dan daerah pertanian lainnya, termasuk industri kayu sehingga dengan adanya PLTU biomassa mampu menyerap sampah biomassa tersebut.
Ia berharap apa yang dilakukan Growth Steel Group ini mampu mendorong investor lain untuk memba-ngun PLTU biomassa sejenis yang akhirnya akan membantu meningkatkan pasokan listrik di Sumut.
Sementara itu, Direktur Operasi PLN Indonesia Bagian Barat Hary Jaya Pahlawan mengatakan pembangunan PLTU biomassa ini akan menambah daya listrik PLN, khususnya di Sumatera Bagian Utara.
Di Sumut, kata Hary, ada 60 pabrik kelapa sawit (PKS) yang menghasilkan cangkang sawit untuk energi PLTU biomassa. “Sampah cangkang sawit ini bisa dimanfaatkan oleh investor lain untuk bisa membantu menambah energi listrik,” jelasnya.
Memang dari sisi daya yakni 15 MW-20 MW tergolong kecil. Namun jika banyak investor melakukan hal sama maka akan menambah daya listrik di Sumbagut yang saat ini total sekira 1.500 MW, hampir imbang dengan kebutuhan saat beban puncak.
Jelang Ramadhan
GM PT PLN (Persero) Wilayah Sumut Krisna Simba Putra mengungkapkan menjelang bulan suci Ramadhan ini pihaknya menjaga kualitas listrik agar aman sehingga diharapkan tidak ada pemadaman.
Namun,karena daya dan kebutuh-an saat beban puncak hampir sama, sehingga jika ada satu mesin saja yang rusak atau ada bencana alam maka dapat mengancam listrik akan padam.
“Tapi jauh hari kita sudah siapkan mesin dalam operasi yang baik sehingga diharapkan tidak ada pemadaman saat bulan Ramadhan dan hari besar keagama-an lainnya hingga akhir tahun dan awal tahun depan,” katanya.
Listrik dari PLTU biomassa 20 MW dari Growth Steel Group ini sudah masuk sistem dua minggu lalu sehingga ada tambahan daya untuk kelistrikan Sumbagut.
Korea bangun pembangkit listrik hidro di Ancol
Reporter: Saugy Riyandi
Selasa, 11 September 2012 11:54:32
KategoriUangEnergi
PLTA Ketenger Baturraden. ©2012 Merdeka.com/pool
Pemerintah menggandeng Korean International Cooperation Agency (KOICA) untuk membangun pembangkit listrik tenaga hidrogen (fuel cell) berkapasitas 300 kilowatt (kw). Pembangkit akan dibangun di Ancol, Jakarta Utara.
Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Terbarukan dan Konservasi Energi Maritje Hutapea mengatakan pembangkit tenaga fuel cell, memiliki potensi besar untuk dikembangkan menggantikan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). "Indonesia masih memiliki PLTD, khususnya di luar sistem Jawa-Madura-Bali," kata dalam sambutannya di Hotel Mercure, Jakarta, Selasa (11/9).
Pembangkit listrik tenaga fuel cell, memanfaatkan hidrogen yang dihasilkan berbagai sumber energi, baik energi fosil dan energi baru terbarukan. Dari gas alam, air dan biomassa yang berfungsi sebagai carrier energy.
Pemanfaatan hidrogen untuk teknologi fuel cell diharapkan dapat meningkatkan ketahanan dan kemandirian energi. Pemanfaatan hidrogen diharapkan dapat meningkatkan elektrifikasi di daerah terpencil.
"Ini jadi salah satu pilihan dalam memenuhi kebutuhan energi. Sekarang 25 persen rumah masih tidak terjangkau listrik, terutama di daerah terpencil," ungkapnya.Selain itu, pemanfaatan hidrogen diharapkan dapat mengurangi emisi rumah kaca. Pemerintah menargetkan penurunan efek rumah kaca sebesar 26 persen pada 2020.
Proyek ini merupakan kerja sama bilateral antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Korea. Pemerintah Korea menunjuk POSCO Power menjadi perusahaan kontraktor yang membangun pembangkit tersebut. Sementara pemerintah Indonesia menunjuk PT Jakarta Propertindo sebagai pengelola.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar